PAGELARAN SENI DAN BUDAYA STT SOLA GRATIA INDONESIA

PAGELARAN SENI DAN BUDAYA

Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia, menyelenggarakan pagelaran seni dan budaya pada 27 Oktober 2022, dengan Tema “Benih Yang Tumbuh di Pulau Jawa”. Dalam pegelaran seni dan budaya kali ini STT SGI secara khusus mahasiswa menampilkan atraksi budaya, dalam bentuk vocal, tarian dan drama, yang menceritakan bagaimana benih itu telah mengubah dan memberikan nuansa yang baru. Tema pagelaran seni dan budaya ini diuraikan oleh Thomas Bedjo Oetomo, M.Mis sebagai Pengkhotbah berdasarkan Kisah Para Rasul 17:30-31, dalam uraiannya: tantangan yang dihadapi ketika benih itu disebar dalam konteks Indonesia, (istilah pintu tertutup), ada empat yaitu: 1) Kultur, 2) Pemerintah, 3) Sarana, dan 4) Prasangka. Ketika pintu tertutup Allah melakukan hal yang luar biasa sehingga pintu mulai terbuka dan bertumbuhnya benih di pulau Jawa secara ringkas dimulai oleh C.L. Coolen di Ngoro, diteruskan oleh Kiai Dasimah di Wiyung, pertemuan antara C.L. Coolen di Ngoro dan Jellesma di Mojowarno cikal bakal GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan); oleh Jellesma benih itu terus berkembang melalui Kiai Ibrahim dikenal Tunggul Wulung di Jepara cikal bakal GITJ (Gereja Injili di Tanah Jawa) dan Kiai Sadrach di Purworejo cikal bakal GKJ (Gereja-Gereja Kristen Jawa). Proses pertumbuhan benih ini tidak mudah, dan terus dipakai oleh Tuhan, yang menarik adalah Tuhan memakai orang-orang yang berlatar belakang non Kristen, yang sering disebut sebagai misionaris lokal yang langsung menanam benih di pulau Jawa. Thomas Bedjo Oetomo dalam akhir khotbahnya menegaskan bahwa ada urgensi misi yang harus disadari yaitu: Manusia terpedaya oleh dosa dan akhirnya adalah maut (neraka), maka Allah mengasihi dunia sehingga mengutus juruselamat dan juruselamat mengutus gerejanya dengan pesan “Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhuk” (Markus 16: 15).

Acara dilanjutkan dengan atraksi budaya dari berbagai suku diwilayah nusantara, yang dimulai dari Tarian Maena, silat dan tari moyo dari Pulau Nias,

 

Lagu “Kasungu Tumpuk Natat”,  dari Kalimantan, drama dan tarian Dero dari Sulawesi dan Lagu Batak dengan tarian Manotor dari sumatera, yang diakhiri dengan parade budaya yang mewakili berbagai wilayah nusantara.

Bagian akhir dari pelaksanaan pagelaran seni dan budaya adalah acara ramah tamah yang menyajikan makanan khas dari beberapa daerah. Memang harus diakui civitas akademika STT Sola Gratia Indonesia yang berasal dari berbagai suku budaya dan Bahasa termasuk unik dari makanan khas daerah masing-masing disajikan dan bisa dinikmati bersama.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X